Kabupaten Temanggung tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil tembakau dan kopi, tetapi juga memiliki kekayaan kuliner tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Di antara berbagai sajian khas yang masih lestari hingga kini, empis-empis, buntil, dan urab menjadi menu yang akrab di meja makan masyarakat Temanggung. Ketiga hidangan tersebut mencerminkan kearifan lokal dalam mengolah hasil pertanian dan bahan pangan sederhana menjadi sajian yang kaya cita rasa.
Empis-empis dikenal sebagai kuliner khas Temanggung dengan cita rasa pedas gurih yang kuat. Hidangan ini umumnya diolah dari tempe, tahu, atau bahan lainnya yang dimasak bersama santan dan cabai hijau dalam jumlah melimpah. Sensasi pedas yang khas bahkan menjadi asal-usul nama empis-empis, karena membuat penikmatnya tersengal-sengal atau “mengkis-mengkis” saat menyantapnya.
Selain empis-empis, masyarakat Temanggung juga memiliki buntil sebagai salah satu kuliner legendaris. Buntil dibuat dari parutan kelapa yang dicampur tempe atau petai cina, kemudian dibungkus daun talas dan dimasak dalam kuah santan berbumbu. Sementara itu, urab hadir sebagai pelengkap yang tak kalah digemari, berupa aneka sayuran rebus yang dicampur kelapa parut berbumbu sehingga menghasilkan perpaduan rasa gurih, segar, dan nikmat.
Hingga saat ini, empis-empis, buntil, dan urab masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Temanggung. Ketiganya tidak hanya disajikan sebagai menu harian keluarga, tetapi juga kerap hadir dalam berbagai kegiatan budaya, hajatan, hingga tradisi masyarakat pedesaan.
DINBUDPAR