TEMANGGUNG – Setelah menyelami kesakralan Situs Purbakala Liyangan pada siang harinya, rangkaian kunjungan wisata spiritual "Unveiling Borobudur Vol. 4" yang diinisiasi oleh komunitas MyndfulAct berlanjut ke destinasi berikutnya. Sebanyak 27 peserta yang berasal dari Jakarta dan Bali tersebut diajak menikmati syahdunya suasana malam di Malam Pasar Papringan (Mapring), Dusun Ngadiprono, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Senin (1/6/2026).
Berbeda dengan gelaran reguler yang biasa diadakan pada pagi hari, kunjungan kali ini menghadirkan pengalaman istimewa menikmati keasrian rimbun bambu Pasar Papringan di malam hari. Mengusung konsep budaya agraris, acara ini memadukan keindahan pertunjukan seni tradisional, exhibition (pameran) karya, serta kehangatan sajian kuliner khas desa yang seluruhnya melibatkan masyarakat lokal dan generasi muda setempat.
Gelaran Mapring malam itu mengusung tema khusus, yaitu “Tedhak Rasa”. Sebuah konsep mendalam yang sengaja diangkat untuk merepresentasikan nilai-nilai kehidupan agraris yang lekat dengan masyarakat Temanggung. Kata tedhak berarti langkah, sedangkan rasa merepresentasikan perasaan, pengalaman, dan keterhubungan antarmanusia.
Melalui tema "Tedhak Rasa" ini, para peserta yang sebagian besar terbiasa dengan hiruk-pikuk kota metropolitan Jakarta dan Bali, diajak untuk melambatkan tempo, kembali merasakan kebersamaan, berharmoni dengan alam, serta memeluk kehangatan kehidupan desa yang menjadi identitas asli masyarakat lokal.
"Ini adalah langkah pembuka rasa. Kami ingin mengajak para peserta untuk melangkah bersama masyarakat desa, merasakan ketulusan, dan menghirup kembali esensi hubungan manusia dengan alam yang sering kali terlupakan di kota besar," ungkap perwakilan dari komunitas MyndfulAct.
Suasana di bawah naungan rumpun bambu Ngadiprono terasa magis dengan pendar cahaya obor dan lampu kekuningan yang temaram. Para peserta tampak antusias mencicipi aneka kuliner tradisional yang disajikan menggunakan wadah-wadah ramah lingkungan, sembari berinteraksi akrab dengan warga desa yang melayani dengan senyuman ramah.
Pertunjukan seni tradisional yang dibawakan oleh generasi muda setempat kian menghidupkan malam, menyalurkan energi magis sekaligus dinamis dari kebudayaan lereng gunung. Kolaborasi apik antara komunitas MyndfulAct dan warga Ngadiprono ini membuktikan bahwa ruang desa mampu menjadi pusat pertukaran rasa dan energi positif bagi siapa saja yang datang.
Melalui rilis penutupnya, pihak penyelenggara berharap pengalaman malam di Pasar Papringan ini tidak hanya membekas sebagai memori visual, melainkan menjadi sebuah "langkah rasa" baru bagi para peserta untuk membawa kedamaian dan kesederhanaan hidup agraris ke dalam keseharian mereka setelah kembali ke daerah asal.
DINBUDPAR