TEMANGGUNG (16/06/2026) Tradisi turun-temurun sudah selayaknya dijaga bersama. Ragam Tradisi Nusantara merupakan warisan kekayaan budaya yang harus kita banggakan. Salah satunya ketika kita mengunjungi Dusun Krajan, Desa Giyono, Kecamatan Jumo. Budaya Merti Dusun yang dilakukan warga setempat merupakan sebuah wujud penghormatan akan kisah Raden Trenggono Kusumo yang menurut Nenek Moyang warga Dusun Krajan berhasil memunculkan mata air Sendang Embong Gedhe. Sendang tersebut hingga kini masih terus mengalir dan menjadi tumpuan bagi kehidupan warga.
Sebagai wujud rasa syukur atas sumber daya air yang mengalir di wilayahnya, warga Dusun Krajan rutin menggelar Upacara Merti Dusun di setiap tanggal 1 Muharam atau 1 Sura. Bermula dengan menguras sendang (dua tahun sekali), lalu dilanjutkan dengan prosesi Doa. Bagi warga Muslim, bersama-sama membaca Surat Yasin dan bagi warga beragama Buddha melaksanakan Parita Suci.
Pada hari 1 Muharam/ 1 Sura pagi, prosesi dibuka dengan Kirab yang diikuti oleh Sesepuh Tokoh Masyarakat, jajaran Pemerintah Daerah dan seluruh warga Dusun Krajan. Setelah sampai di area Sendang Embong Gedhe, warga dan seluruh tamu undangan dihibur oleh Tari Jaran Kepang yang melambangkan Pasukan Raden Trenggono Kusumo. Berikutnya ada lelakon wayang yang menceritakan sejarah singkat Raden Trenggono Kusumo. Lebih lanjut, ada prosesi Bur Ayam yang merupakan prosesi pelepasan ayam berwarna putih ke dalam Sendang.
Sebagai penutup, warga menggelar Doa bersama dengan 3 cara berbeda, yaitu Islam, Buddha, dan Kristen yang mewakili ragam Agama yang ada di masyarakat Dusun Krajan. Doa dipimpin oleh tokoh Agama, dan berlangsung khidmat. Acara ini diakhiri dengan berebut Gunungan yang berisi hasil bumi dari Dusun Krajan. Di malam hari, warga juga menggelar pentas Wayang Kulit guna menutup rangkaian acara Merti Dusun.
DINBUDPAR