Tembakau Srinthil dikenal sebagai varietas tembakau paling bernilai tinggi di Indonesia. Tumbuh secara khas di wilayah lereng Gunung Sumbing dan Sindoro, Temanggung, tembakau ini memiliki reputasi tersendiri di kalangan petani dan industri rokok kretek karena kelangkaan serta kualitas aromanya yang khas. Keistimewaan srinthil tidak lepas dari kondisi geografis dan iklim mikro, ketinggian tempat, jenis tanah vulkanik, serta pola cuaca yang unik menciptakan lingkungan tumbuh yang sulit ditiru di daerah lain. Salah satu yang paling terkenal adalah Srinthil Legoksari, yang tumbuh di lereng Gunung Sumbing pada ketinggian minimal 1.200 mdpl menggunakan bibit lokal unggulan, yaitu varietas Kemloko, dan terbentuk secara alami dari daun tembakau paling atas saat musim kemarau panjang, tanpa rekayasa apa pun.
Proses pascapanen turut menjadi faktor penentu kualitasnya. Daun tembakau harus melalui tahapan pengeringan dan fermentasi alami dengan ketelitian tinggi, menghasilkan aroma harum khas, kadar gula serta nikotin tinggi, dan tekstur daun yang lengket dengan warna gelap kehitaman yang menjadi ciri utama srinthil sejati. Karena keterbatasan produksi dan tingginya permintaan dari kolektor maupun industri rokok kretek, harga srinthil kerap melambung jauh di atas tembakau rajangan biasa, sehingga masyarakat petani Temanggung kerap menjulukinya sebagai "emas hitam" dari lereng gunung.
DINBUDPAR