Kabupaten Temanggung tidak hanya dikenal sebagai penghasil tembakau terbaik atau pemandangan gunung Sumbing dan Sindoro yang memukau. Di balik kehidupan agraris masyarakatnya, tersimpan kekayaan seni pertunjukan rakyat yang unik, salah satunya adalah Tari Bangilun.
Berbeda dengan Jaran Kepang (Kuda Lumping) yang cenderung magis dan keras, Tari Bangilun hadir dengan nuansa yang lebih ceria, jenaka, namun sarat akan nilai-nilai religius.
1. Asal-Usul dan Sejarah
Tari Bangilun dipercaya sebagai salah satu bentuk kesenian yang lahir dari proses penyebaran agama Islam di tanah Jawa.
-
Etimologi (Asal Kata): Ada beberapa versi mengenai asal nama "Bangilun". Salah satu yang populer menyebutkan bahwa nama ini berasal dari istilah Arab dalam ilmu nahu/shorof atau syair, yaitu "Fa'ilun", yang kemudian dilafalkan oleh lidah Jawa menjadi "Bangilun".
-
Kisah "Bani Ilun": Versi lain menyebutkan kesenian ini mengangkat kisah dari kitab Al-Kisah Al-Bani Israil, yang menceritakan tentang kaum Bani Ilun.
-
Media Dakwah: Seperti halnya kesenian rakyat bernafas Islam lainnya (seperti Rodat atau Slawatan), Bangilun diciptakan oleh para ulama atau kiai terdahulu sebagai media untuk mengumpulkan masyarakat. Setelah warga berkumpul menonton tarian yang menarik, barulah pesan-pesan moral dan agama disisipkan.
2. Karakteristik Gerakan dan Busana
Keunikan utama Tari Bangilun terletak pada perpaduan antara gerakan yang dinamis dan kostum yang menyerupai seragam prajurit kolonial namun dimodifikasi.
Gerakan
Gerakan Tari Bangilun sangat energik dan lincah.
-
Anggukan Kepala: Penari sering mengangguk-anggukkan kepala mengikuti hentakan musik yang rancak.
-
Kekompakan: Tarian ini adalah tari kelompok (biasanya ditarikan oleh laki-laki, meski sekarang juga ada penari perempuan) yang mengutamakan formasi baris-berbaris yang rapi namun santai.
-
Unsur Jenaka: Tidak jarang penari melakukan improvisasi gerakan yang mengundang gelak tawa penonton tanpa meninggalkan kesopanan.
Busana (Kostum)
Kostum Bangilun sangat khas dan mudah dikenali:
-
Tutup Kepala: Menggunakan topi pet, topi tarbus, atau topi yang menyerupai helm prajurit lawas.
-
Baju: Kemeja lengan panjang atau rompi, seringkali dilengkapi dengan selendang atau sampur.
-
Celana: Celana pendek selutut dengan kaos kaki panjang, memberikan kesan seperti prajurit latihan.
-
Kacamata Hitam: Ini adalah ciri khas unik di beberapa grup Bangilun modern, di mana penari menggunakan kacamata hitam yang menambah kesan "gagah" sekaligus lucu.
3. Musik Pengiring dan Syair
Tari Bangilun tidak menggunakan gamelan Jawa lengkap, melainkan alat musik yang kental dengan nuansa Timur Tengah dan perkusi ritmis.
-
Instrumen: Didominasi oleh Jedor (drum besar), Rebana/Terbang, Kendang, dan terkadang ditambah instrumen melodis sederhana. Suara "Jedor" yang berdentum memberikan ritme semangat bagi penari.
-
Syair/Lagu: Lagu-lagu yang dinyanyikan diambil dari kitab Al-Barzanji atau syair-syair Jawa (Syi'iran) yang berisi puji-pujian kepada Tuhan, nasihat kehidupan (pitutur), dan ajakan berbuat baik.
4. Filosofi: Tuntunan dalam Tontonan
Meskipun terlihat jenaka, Tari Bangilun memegang teguh filosofi Tuntunan (nasihat/bimbingan) di dalam sebuah Tontonan (hiburan).
-
Gerak Rancak: Simbol semangat dalam beribadah dan menjalani hidup.
-
Kekompakan: Simbol kerukunan antarwarga dan gotong royong (ukhuwah).
-
Syair: Mengingatkan manusia akan Sang Pencipta.
5. Eksistensi Masa Kini
Hingga saat ini, Tari Bangilun masih lestari di berbagai desa di Temanggung, seperti di Kecamatan Kedu, Bulu, dan Parakan. Kesenian ini sering ditampilkan dalam acara:
-
Merti Dusun/Sadranan: Upacara bersih desa sebagai wujud syukur panen.
-
Hajatan: Pernikahan atau khitanan warga.
-
Festival Budaya: Sering menjadi perwakilan Temanggung dalam parade budaya regional.
DINBUDPAR